Tampak Lautan di Senori

    Jatisari merupakan desa agraris yang terletak 5 kilometer utara kaki Gunung Gong, Banyuurip, Kecamata Senori, atau 50 kilometer barat daya kota Kabupaten Tuban Jawa Timur. Desa yang lebih dikenal dengan sebutan Senori ini  merupakan dua kampung kecil yang terbagi atas dua dusun yaitu Jatisari  untuk sebutan kampung timur dan Jatileres untuk barat, Desa  tersebut memiliki dua aliran sungai, yaitu  sungai “Kaligede” yang merupakan   anak kaki gunung Gong Banyuurib yang membelah kampung Jatisari,  dan “Kali Jati” yang menjadi pembatas dengan Dusun Jatileres.

    Mata pencaharian utama penduduk kedua dusun tersebut adalah tani dan ternak, secara geografis baik krajan Jatisari maupun Dusun Jatileres sebenarnya tergolong kurang agraris, tanah pertanian di kedua dusun tersebut sangat tergantung air hujan (sawah tadah, sawah bathok) , belum ada irigasi. Berbeda dengan  desa yang terletak tepat di utara desa Jatisari yaitu Desa Sendang yang terdapat air melimpah. Nama Sendang konon diambil karena kampung tetangga di  utara Desa Jatisari ini terdapat sebuah telaga dan sungai yang juga membelah desa Sendang selalu berair sepanjang musim, sumber air di tanah-tanah penduduk juga sangat melimpah, hingga tanah pertanian cukup subur.             
 Berawal dari Desa Sendang inilah terdapat pendatang kaya asal kota Padangan Bojonegoro yang bernama Carik Kontho dan istri, konon beliau datang ke Senori untuk berdagang dan berdakwah bersama  adiknya, Koyo, yang tinggal di Desa Leran Selatan desa Jatisari. Bila dibandingkan dengan  Desa Leran, Desa Jatisari juga dinilai kurang ekonomis, sebab pusat perdagangan warga (pasar) saat itu bertempat di Desa Leran tersebut, bukan di Jatisari seperti yang ada sekarang, konon tepatnya di sekitar masjid jamik Desa Leran sekarang.
  Nasib baik dialami Carik Kontho yang tinggal di Desa Sendang yang oleh masyarakat Senori akhirnya dikenal dengan nama Kyai Abdul Mukti, beliau dikenal sebagai sosok pekerja keras hingga berhasil dalam  usaha terutama mengelola pertanian. Hanya di tempat tinggal barunya tersebut yakni Desa Sendang yang juga perbatasan dengan Jatisari konon sering terjadi perkelaian antarwarga terutama mereka yang memiliki ilmu kedigdayaan, tempat tersebut juga sering dijadikan ajang pertemuan para jawara untuk mengadu kasaktian, hingga Desa Senori (sebutan untuk Desa Jatisari) ini dulu dikenal juga dengan sebutan kampung jawara (pendekar), banyak orang sakti yang tinggal di tempat itu, bahkan orang luar desa datang  ke Senori untuk beradu kesaktian. Namun sayang para pendekar  yang rata-rata belum dalam ilmu agamanya banyak membuat ulah di tengah masyarakat, hingga penduduk asli merasa resah.
 Hal demikian menarik Kyai Abdul Mukti untuk mendatangkan seorang alim yang juga sakti dari sebuah kampung di Desa Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, beliau adalah Mbah Kyai  Gusno.

Sejarah Majalah Gem@s





       Akhir-akhir  ini dunia jurnalistik yang tengah happening telah menjalar ke pelosok daerah. Aroma dunia jurnalistik sendiri sebenarnya telah tercium di MA Islamiyah(MAIS) sejak tahun 1987. Menurut informasi yang kami dapat, dulunya apresiasi dari jiwa kejurnalistikan siswa-siswi MA Islamiyah tertuang dalam sebuah majalah dinding(mading) bernama

Al Hikmah (kini K-SMAISS). Saat itu, kehadiran Al hikmah mendapat respon  luar  biasa dari siswa MAIS. Terbukti dengan banyaknya karya yang masuk ke dapur redaksi,  bahkan Al Hikmah sukses terbit setiap minggu. Namun sangat disayangkan, dalam peerjalanannya, Al Hikamh terkesan statis. Hal ini dikarenakan perbedaan sistem pengelolaan serta perbedaan karakter dari pengelola mading tiap periodenya. 
     Fenomena ini yang kemudian menggerakkanpengurus OSIS periode 2003/2004 berinisiatif untuk membuat alternatif bacaan yang lebih inovatif.  Karena keberadaan mading sebagai sarana berekspresi dalam tulis menulis pasif dan tidak dapat dinikmati sewaktu-waktu, akhirnya muncullah gagasan untuk membuat bulletin MA Islamiyah yang dapat dinikmat kapanpun dan di manapun dengan tanpa membubarkan eksistensi  mading Al Hikmah.
     Ada beberapa nama yang disodorkan untuk bulletin MAIS, baik dari yang berbahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia. Namun berdasarkan kesepakatan bersama, diambillah nama Brilliant Science. “Harapannya agar bulletin  ini dapat menampung ide-ide cemerlang siswa MAIS yang mungkin belum pernah dipublikasikan, sehingga hadirnya Brisma’s (Brilliant Science of MAIS) dapat mengekspresikan ide-ide cemerlang tersebut”, tutur A. Sanuji, penggagas nama Brilliant Science.

Diberdayakan oleh Blogger.

Data Kadonwap

Widget Slideshow