Tampak Lautan di Senori
Jatisari
merupakan desa agraris yang terletak 5 kilometer utara kaki Gunung
Gong, Banyuurip, Kecamata Senori, atau 50 kilometer barat daya kota
Kabupaten Tuban Jawa Timur. Desa yang lebih dikenal dengan sebutan
Senori ini merupakan dua kampung kecil yang terbagi atas dua dusun
yaitu Jatisari untuk sebutan kampung timur dan Jatileres untuk barat,
Desa tersebut memiliki dua aliran sungai, yaitu sungai “Kaligede” yang
merupakan anak kaki gunung Gong Banyuurib yang membelah kampung
Jatisari, dan “Kali Jati” yang menjadi pembatas dengan Dusun Jatileres.
Mata pencaharian
utama penduduk kedua dusun tersebut adalah tani dan ternak, secara
geografis baik krajan Jatisari maupun Dusun Jatileres sebenarnya
tergolong kurang agraris, tanah pertanian di kedua dusun tersebut sangat
tergantung air hujan (sawah tadah, sawah bathok) , belum ada irigasi.
Berbeda dengan desa yang terletak tepat di utara desa Jatisari yaitu
Desa Sendang yang terdapat air melimpah. Nama Sendang konon diambil
karena kampung tetangga di utara Desa Jatisari ini terdapat sebuah
telaga dan sungai yang juga membelah desa Sendang selalu berair
sepanjang musim, sumber air di tanah-tanah penduduk juga sangat
melimpah, hingga tanah pertanian cukup subur.
Berawal dari Desa Sendang inilah
terdapat pendatang kaya asal kota Padangan Bojonegoro yang bernama Carik
Kontho dan istri, konon beliau datang ke Senori untuk berdagang dan
berdakwah bersama adiknya, Koyo, yang tinggal di Desa Leran Selatan
desa Jatisari. Bila dibandingkan dengan Desa Leran, Desa Jatisari juga
dinilai kurang ekonomis, sebab pusat perdagangan warga (pasar) saat itu
bertempat di Desa Leran tersebut, bukan di Jatisari seperti yang ada
sekarang, konon tepatnya di sekitar masjid jamik Desa Leran sekarang.
Nasib baik dialami Carik Kontho yang
tinggal di Desa Sendang yang oleh masyarakat Senori akhirnya dikenal
dengan nama Kyai Abdul Mukti, beliau dikenal sebagai sosok pekerja keras
hingga berhasil dalam usaha terutama mengelola pertanian. Hanya di
tempat tinggal barunya tersebut yakni Desa Sendang yang juga perbatasan
dengan Jatisari konon sering terjadi perkelaian antarwarga terutama
mereka yang memiliki ilmu kedigdayaan, tempat tersebut juga sering
dijadikan ajang pertemuan para jawara untuk mengadu kasaktian, hingga
Desa Senori (sebutan untuk Desa Jatisari) ini dulu dikenal juga dengan
sebutan kampung jawara (pendekar), banyak orang sakti yang tinggal di
tempat itu, bahkan orang luar desa datang ke Senori untuk beradu
kesaktian. Namun sayang para pendekar yang rata-rata belum dalam ilmu
agamanya banyak membuat ulah di tengah masyarakat, hingga penduduk asli
merasa resah.
Kedatangan Kyai Gusno, bukan tanpa
hambatan, beliau datang langsung berhadapan dengan para jawara baik yang
benar-benar ingin adu kesaktian maupun yang hanya ingin main-main
dengan kyai yang memiliki nama lain Abdul Qohir ini. Namun karena
ilmu kesaktiannya yang mumpuni, beberapa pendekar takluk dihadapan mbah
Gusno, termasuk Ki Sumorantam, pendekar sakti yang pernah ada saat itu.
Melalui putra mbah Gusno yakni Kyai Hambali, Ki Sumorantam dapat
ditaklukkan dalam sebuah pertempuran jawara . Ki Sumorantam, tokoh
kontroversi yang pernah teter (imbang)
beradu kasaktian dengan Kyai alim satu kampung, yaitu Kyai Zainuri atau
lebih dikenal dengan nama Kyai Janur yang keduanya sama-sama putra asli
Desa Leran itu mengakui kehebatan keluarga Kyai Gusno.
Untuk menjaga ketentraman warga, konon
Kyai Gusno juga terpaksa memberi tumbal Desa Senori dari orang-orang
jahat yang berniat mengganggu masyarakat Senori. Tumbal itu berupa
bayangan menyerupai lautan yang bergelombang besar saat orang mancadesa
hendak berbuat jahat di desa tersebut. Bahkan para perampok yang telah
dapat masuk ke Senori bisa kehilangan arah untuk tidak dapat keluar desa
lagi, Di samping itu “Kyai macan putih” milik Mbah Gusno akan berjaga
mengelilingi kampung saat malam hari tiba guna membantu ketentraman
warga Senori.
Di samping memiliki ilmu kanuragan, Kyai
Gusno juga alim dalam bidang agama, selanjutnya guna lebih dekat dengan
masyarakat, ilmu ketabiban yang beliau kuasai dijadikan media untuk
menyatu dengan lingkungannya.
Makam mbah kyai Gusno terletak
dipemakaman umum Desa Jatisari yang lebih dikenal sebutan makam Pontang,
nama “Pontang” sendiri konon juga diambil dari nama orang sakti yang
jasadnya kali pertama dimakamkan di tempat tersebut, hanya Gem@s belum
bisa menelusuri cerita tersebut.
Sepeningal Mbah Gusno, perjuangan
diteruskan oleh salah satu putranya yaitu Kyai Djoned. Ilmu riyadhoh dan
kanuragaan yang diperoleh dari abahnya terus digunakan untuk membantu
masyarakat dalam mengatasi persoalan hidup. Kehebatan mbah Djoned
menyamai abahnya, Kyai Gusno. Karena jasa perjuangannya dalam membantu
masyarakat Senori, oleh pemerintah Kecamatan Senori kini namanya
diabadikan menjadi nama sebuah jalan desa, tepatnya jalan raya
Jatisari arah timur hingga batas Desa Wanglu Wetan Senori.
Bidang Pendidikan
Di sisi lain, Kyai Syahid, salah satu
menantu kyai Abdul Mukti (mbah Kontho), asal Desa Sedan Kabupaten
Rembang juga merasa prihatin melihat penderitaan masyarakat atas
penindasan kolonial yang membuat masyarakat Senori buta huruf, banyak
masyarakat tidak diberi kesempatan layak mengenyam pendidikan. Untuk
itu suami Nyai Sulminah binti Kontho ini, yang juga pernah “nyantri”
kepada Kyai Khozin Desa Tanggir, Singgahan 7 kilometer timur laut
Senori tersebut, berinisiatif mendirikan pesantren. Guna mendukung
cita-citanya, selain mengkader putranya sendiri, beliau mencari
beberapa santri muda yang alim guna dijadikan menantu yang kelak dapat
membantu memberi pencerahan kepada masyarakat Desa Senori.
Dari usaha itu didapatilah santri alim seperti Kyai Shodiq, asal Banjarworo Bangilan , Kyai Munawwar asal Desa lajo Kidul Singgahan, dan juga Kyai Masyhuri asal Lasem, Jawa
Tengah. Dan dari situlah lahir beberapa pesantren salaf di desa
tersebut, di antaranya pesantren Al Hidayah yang diasuh oleh Putra kyai
Syahid yaitu Kyai Masykur dan iparnya, Kyai Shodiq . Bersamaan itu
pula berdiri Pesantren Mansyaul Huda oleh Kyai Munawwar dan Kyai
Masyhuri pemimpin pesantren Raudlotut Tholibin Jatisari.
Merintis Madrasah Formal
Pada tangal 17 Juli 1929 atau 16 tahun
sebelum Indonesia merdeka atas inisiatif Kyai Masyhuri yang tak lain
adalah menantu Kyai Syahid, dan tanggapan positif masyarakat Senori
terhadap pendidikan, maka dibangunlah semacam madrasah formal tingkat
dasar atau ibtidaiyah di atas tanah milik kyai Syahid berbentuk los
(tanpa penyekat ruangan) berdinding kayu jati yang tepatnya terletak di
tenggara masjid jamik Senori sekarang, Pendirian ini dimaksudkan guna
melengkapi pendidikan pesantren yang telah ada sebelumnya yang memang di
dalamnya tidak mengajarkan CALISTUNG (Baca, Tulis, Hitung). Bangunan
madrasah tersebut menghadap utara dengan posisi melintang ke barat .
Untuk keperluan kelas bangunan los kemudian disekat dengan papan yang
dapat digeser atau dipindahtempatkan yang oleh masyarakat Senori disebut
“Skesel” menjadi 6 ruang . Saat itu model skesel ini dinilai paling
efektif karena ruangan dapat disesuaikan dengan jumlah siswa yang
belajar. Kelas 1 menempati ruang paling Timur dan berjajar ke Barat
hingga kelas 6.
Perintisan pendidikan agama di luar
pesantren ini juga mendapat dukungan positif dari para kiai pemilik
pesantren di Senori seperti KH. Munawwar (PP. Mansyaul Huda), KH.
Shodiq, KH. Masykur (PP. Al Hidayah), K. Abul Fadlol (PP. Darul Ulum),
dan kiai pemilik langgar/musholla seperti, KH.Thohir KH.Nursyam, K.
Khudhori, serta beberapa tokoh masyarakat seperti KH Nur Salim, KH. Nur
Hadi dan para masyarakat sekitar.
Akhirnya masyarakat saling membahu
mencurahkan perhatiannya dengan melibatkan diri dalam pengajaran dan
pembangunan, pada awal berdiri, guru bukan hanya sekedar mengajar, tapi
juga mencari dana operasional dan perawatan. Seksi pembangunan
dipercayakan kepada Bapak Suhaemi yang dikenal tahu kontruksi dan birokrasi, sementara seksi pendidikan dipercayakan kepada Kyai Haji Masyhuri.
Pertama kali pendidikan ala Madrasah yang
dirintis K. Masyhuri dan kawan-kawan ini adalah madrasah tingkat
ibtidaiyah dan masih terbatas pada kaum pria saja. Perintisan ini
dikenal sebagai cikal-bakal Madrasah Ibtidaiyah Banin. Delapan
tahun kemudian, setelah melihat pentingnya kiprah muslimat NU dalam
masyarakat maka pada tanggal 17 Oktober 1937 dirintislah Madrasah
Ibtidaiyah untuk wanita yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan MI
Banat. Keterbatasan gedung, proses pembelajaran MI Banat dilakukan pada
sore hari.
Pentingnya pendidikan lanjutan usai tamat
Madrasah Ibtidaiyah (MI) mendorong pengurus untuk mendirikan sekolah
lanjutan setingkat menengah pertama atau Madrasah Tsanawiyah, maka pada
tanggal I Juli 1962 dirintislah pendirian Sekolah menengah Pertama yang
diberi nama MTs Islamiyah. Dalam perekembangnnya.pada tahun 1995 MTs
Islamiyah dipecah menjadi Banin dan Banat, dengan sebutan Banin untuk
MTs Putra yang proses pembelajarnnya pagi hari dan Banat untuk MTs
putri yang masuk sekolahnya sore hari, hingga sekarang.
Meletusnya Gerakan 30/S PKI pada tahun
1965 telah menoreh keperhatinan para pendiri madrasah untuk lebih dapat
membentengi masyarakat dari faham komunisme sejak usia dini, maka pada
tanggal 1 September 1966 didirikanlah pendidikan Raoudltul Athfal (RA)
yang menempati bangunan milik K. Masykur di Desa Sendang atau 100 meter Barat Laut dari tempat gedung MI dan MTs Islamiyah Jatisari dibangun.
Selanjutnya guna menampung lulusan MTs.
Baik Banin maupun Banat, maka pada tahun 1970 dirintislah sekolah
lanjutan Atas atau Aliyah. Namun sayang usia Madrasah Aliyah (MA)
pereode I ini tidak begitu panjang.
Konon hal itu dipicu karena persoalan
politik. Nahdlotul Ulama’ (NU) yang turut dalam percaturan politik
pada pemilu pertama tahun 1971 butuh dukungan kongret dari warga
Nahdliyin, Sementara di sebagian masyarakat kehadiran partai NU masih
ditanggapi dingin. Hal demikian memprihatinkan dan menarik para Guru
Aliyah yang tak lain adalah para kader NU untuk lebih all out memperjuangkan partai NU bisa menang baik ditingkat ranting, anak cabang, cabang, wilayah
hingga pusat di Jakarta. Para guru Aliyah khawatir PKI yang saat itu
mulai mendapat simpati masyarakat awam, akan menguasai parlemen dan itu
ancaman bagi Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Terlebih sikap
arogansi PKI yang selalu kurang simpati terhadap para kyai dan santri,
mendorong para guru Aliyah Senori lebih terfokus pada dunia politik
daripada dunia pendidikan. Madrasah Aliyah pereode I ini akhirnya hanya
bisa bertahan 2 tahun saja, setelah itu matisuri hampir 10 tahun.
MA pereode ke II baru bangkit dari tidur
lelap setelah suasana menjadi lebih tenang, tepatnya pada 1 Juni 1981,
saat penerimaan siswa baru tahun tersebut pengurus madrasah telah
membuka pendaftaran baru bagi siswa tingkat lanjutan atau Aliyah
dengan penuh tanggung jawab, KH. In’am Husnan, BA dipercaya
memimpinnya.
Untuk membantu memperdalam pengetahuan
agama bagi siswa MA dan MTs yang tidak tinggal di pesantren, pengurus
merintis Madrasah Diniyyah pada 1 Juni 1998
Adapun jenjang yang dibuka adalah kelas Ula dan Wustho.
Berbentuk Yayasan
Pada Sabtu 21 Juni 1997, pengurus
madrasah Islamiyah yang diketuai KH. Mas’udi putra KH. Shodiq datang ke
notaris Nurul Yakin, SH Tuban untuk mendaftarkan Lembaga Madrasah
Islamiyuah (MIS) menjadi yayasan. Selanjutnya oleh Notaris Nurul Yakin,
SH berkas diregestrasi dengan nomor 52. Selanjutnya berkas didaftarkan
ke panitera Pengadilan Negeri Tuban pada Selasa 24 Juni 1997 untuk
mendapatkan legalitas, oleh panitera Pengadilan Negeri Tuban Syaiful
Bachri, SH, berkas didaftar dengan nomor 11/1997.
Melihat adanya prospektif pendidikkan di
Senori, pengurus madrasah pereode ke II tersebut bertekat mengupayakan
lembaga berbadan hukum, hal itu dimaksudkan agar lebih legal formal dan
memiliki kekuatan yang berdampak pada kepercayaan pemerintah dan
masyarakat dalam mengelola dana yang disumbangkan kepadanya. Rintisan
KH. Mas’udi Shodiq ternyata manjur perubahan status dari pengurus
menjadi yayasan mendapat tanggapan positif bagi birokrasi yang
berdampak pula pada kemudahan mencari dana pembangunan dan pengembangan
madrasah.
Keinginan untuk masuk sekolah di madrasah
Senori semakin tinggi terlebih di tingkat Aliyah, hanya di satu sisi
hal tersebut meninggalkan persoalan sebab tidak semua calon siswa baru
Aliyah berlatar belakang MTs atau background agama, banyak di antara
mereka lulusan SMP atau umum, akibatnya saat belajar di MA yang
mayoritas pelajaran kajian kitab kuning (klasik), membuat mereka
kesulitan berinteraksi dengan pelajaran-pelajaran agama tersebut.
Melihat hal demikian dan memperhatikan aspirasi masyarakat umum,
pengurus yayasan akhirnya membuka pendidikan setara Aliyah yang
pelajarannya disesuaikan dengan latar belakang SMP, maka tanggal 17 Juli
2002 berdirilah Sekolah Menengah Atas Islamiyah yang kini dikenal SMAI.
Setelah dirasa yayasan sunnatunnur
berdiri mantap, pada tahun yang sama yaitu 2002, pengurus berupaya
meningkatkan Sumber Daya Guru (SDG) di lingkungan yayasan Sunnatunnur.
Dr. H. Zainurrofiq, putra KH. Mas’udi Shodiq, selaku ketua pelaksana
harian yayasan Sunnatunnur saat itu memprogramkan bahwa pada tahun 2004
semua guru di lingkungan yayasan Sunnatunnur harus sudah berkualifikasi
sarjana S-1. Untuk menyukseskan program tersebut, pengurus menggandeng
beberapa perguruan tinggi (PT) yang ada di Tuban dan Bojonegoro untuk
kerjasama. Selanjutnya guna memudahkan proses perkuliahan efektif
digagaslah kelas jauh yakni kuliah cukup di lingkungan yayasan
Sunnatunnur dengan hak dan kewajiban yang sama dengan induk perguruan
Tinggi yang dimaksud. Agar program ini tidak memberatkan guru MIS yang
ingin kuliah, yayasan juga memberi tunjangan berupa subsidi separo
biaya SPP.
Saat itu Perguruan Tinggi yang digandeng
adalah STAI Sunan Giri Bojonegoro dan IKIP PGRI Tuban (nama Sebelum
menjadi Unirow). Adapun untuk mengatur sesuatunya yayasan mempercayakan
kepada Drs. H. Abdul Mu’in, SH, MBA untuk memimpinnya.
Program Studi (prodi) yang dipilih dari
STAI Sunan Giri Bojonegoro saat itu adalah Fakultas Tarbiyah dengan
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Syariah jurusan Muamalah.
Adapun IKIP PGRI Tuban S-1 program ekonomi. Namun sayang S-1 Ekonomi
Unirow ini hanya berjalan satu semester karena suatu hal, di antaranya
karena meninggalnya sang koordinator Drs. Abdul Mu’in. Sementara itu
Pelaksana Harian (PLH), dr. H. Zainurrofiq yang tak lain wakil ketua II
yayasan Sunnatunnur, masih mengalami keterbatasan akses ke IKIP PGRI
Tuban disebabkan belum konkretnya kontrak kerja sama (MoU) yang diurus
Bapak Drs. Abdul Muin tersebut. Berlarutnya kontrak kerja ini konon
juga disebabkan belum adanya kesepakatan biaya kuliah antar kedua pihak
yang dinilai terlalu memberatkan. Hingga akhirnya diputuskan untuk
membatalkan S-1 Ekonomi dengan mengembalikan biaya pendaftaran mahasiswa
yang terlanjur daftar kuliah. Selanjutnya hanya STAI Sunan Giri
Bojonegoro fakultas Tarbiyah dan Syariah yang tetap eksis memberi
perkuliahan kelas jauh di Senori. Hanya Fakultas Syariah akhirnya juga
mengalami layu, mengingat saat itu hanya diminati 4 mahasiswa, maka
setahun kemudian semua mahasiswa fakultas Syariah yang ada di Senori
diindukkan ke STAI Bojonegoro hingga yang tersisa tinggal S-1 Tarbiyah
jurusan PAI hingga sekarang.
Tahun 2005, atas masukan berbagai pihak
dirintislah program D-II PGMI di lingkungan Sunnatunnur. Inisiatif Drs.
Abdul Kholiq selaku koordinator daerah pengganti PLH dr.H. Zainurrofiq
ini direspon positif oleh pengurus yayasan, maka digandenglah D-II PGMI
Sekolah Tinggi Makdum Ibrahim (STITMA) Tuban untuk kelas ekstention di
Senori. Namun juga sayang , setahun kemudian tepatnya 2006 diwacanakan
pemerintah akan menghapus program D-II di Indonesia sebagaimana
pemerintah pernah menghapus Pendidikan Guru Agama (PGA) tahun 90-an.
Wacana tersebut mengakibatkan program D-II di Sunnatunnur tersendat dan
akhirnya hanya mewisuda satu angkatan.
Adapun sekolah tinggi yang hingga
sekarang masih eksis di lingkungan yayasan sunnatunnur adalah STAI Sunan
Giri Bojonegoro fakultas Tarbiyah jurusan PAI yang telah meluluskan
sekitar 62 mahasiswa hingga tahun 2011/2012 ini .
Bangunan Pisik
Pada tahun 1981 bangunan madrasah
Islamiyah mulai mengalami perubahan signifikan, Bangunan dari kayu jati
berubah menjadi beton bertingkat. Berawal dari penggeseran gedung MI
lama ke Barat dan ditanamnya pondasi gedung bertingkat 2 berbentuk” L”
di tempat tersebut yang membujur ke barat dan utara mengelilingi masjid
jamik Senori. Tak lama kemudiaan dibangun pula gedung yang juga
berbentuk “L” dengan 4 ruang bawah dan 3 ruang lantai atas di sebelah
Barat Laut masjid jamik atau pojok simpang empat Senori.
Banyaknya masyarakat yang ingin
bersekolah ke Madrasah Islamiyah Senori yang biasa di singkat MIS,
memaksa pengurus madrasah harus menambah ruang belajar, tapi sayang
tanah sudah tidak mencukupi lagi, sehingga mamaksa beberapa bangunan
lama dibongkar dan dibangun berkontruksi tingkat seperti yang dilakukan
pada gedung Madrasah Ibtidaiyah di Barat Daya masjid yang menghadap ke
Timur yang kini ditempati kantor dan ruang belajar siswi Ibtidaiyyah
Banin.
Setelah dapat membebaskan tanah milik KH.
In’am Husnan, BA yang terletak di Timur gedung lama pada tahun 2002
pengurus yayasan akhirnya mampu membangun gedung lantai 2 dengan 6
ruang yang menghadap ke Timur. Gedung tersebut kini ditempati siswa MA
program IPA dan Bahasa. Pada tahun 2004 madrasah dapat menambah
fasilitas gedung dengan membangun 3 ruang belajar pada tahap 1 dan 7
ruang belajar pada tahap II. Di Selatan gedung MA program bahasa dan
IPA tersebut yang kini ditempati kantor MA dan ruang belajar siswa
program IPS.
Selanjutnya Pada tahun 2006 atas bantuan
pemerintah dibangunlah 3 gedung dasar MA/SMA yang terletak disamping
jalan raya K. Djoned pada pereode I dan dilanjutkan 6 ruang di atasnya
hingga menjadi gedung megah lantai tiga yang kini di tempati SMAI.
Gedung yang selesai pembangunanya tahun 2010 ini di samping berfungsi
sebagai ruang belajar juga terdapat kantor SMA, laboratorium bahasa dan
laboratorium computer, sekaligus berperan sebagai bangunan pintu
gerbang masuk gedung MA.
Kepercayaan masyarakat terhadap
pendidikan di Senori memaksa pengurus harus terus mencari alternative
lahan untuk pemgembanganan dan pembangunan gedung. Pada tahun 2009,
pengurus dapat membebaskan lagi tanah milik Bapak K. Hilaluddin Qomar
yang terletak di Barat jalan raya Senori- Leran. Di lahan tersebut kini
berdiri kokoh gedung 3 ruang untuk siswa MI Banat.
Memasuki tahun ajaran baru 2011/2012
pengurus yayasan Sunnatunnur telah membuka SMK Negeri filial SMK Negeri
Jojogan Singgahan Tuban dengan dua jurusan sekaligus yakni mesin dan
tata busana. Hanya karena fasilitas gedung kurang dapat menampung jumlah
siswa, akhirnya tanah K. Abul Fadhol yang telah dibeli yayasan
dibangun menjadi gedung berlantai 2 dengan 6 ruang yang dapat
menampung 240 siswa baru. Kehadiran SMK di lingkungan Sunnatunnur
ternyata menjadi daya tarik masyarakat Senori, bahkan mampu menggeser
eksistensi SMAI. Pada angkatan pertama ini setidaknya butuh 3 ruang
untuk menampung mereka. Karena keterbatasan tempat belajar untuk
sementara mereka menempati gedung yang kini ditempati SMA.
Yayasan Sunnatunnur yang hingga tahun
ajaran baru 2011/12 ini memiliki siswa lebih dari 3000 siswa dari
berbagai jenjang ini telah melengkapi diri dengan berbagai fasilitas
pendidikan dan inventarisasi, mulai penambahan ruang belajar,
perlengkapan media pembelajaran, laboratorium bahasa, IPA, computer,
marching band, serta inventarisasi sebuah mobil jenis APV untuk
operasional.
Kini Jatisari atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Senori telah menjilma menjadi sebuah desa poros
pendidikan yang ilmiah dan religius, banyak pesantren berdiri melengkapi
pesantren yang ada lebih dulu , sebut saja Pesantren Putri Mansyaul
Huda-2, yang diasuh Mbah KH. Muhammad Muhyiddin, Pesantren Putri
Annihayah pimpinan K.H. Maulani, Pesantren Al Husna, asuhan KH. Syamsul
Huda, Pesantren Putri Roudlotut Tholibin, asuhan KH. Minanurrohman,
Pesantren putri An Nasyiah Aljadidah pimpinan K. Jauharuddin, Pesantren
Jabal Qubais, pimpinan KH. Fathoni Thohir. Pesantren Darul Ulum Al
Fadloli asuhan KH Abdul Jalil. Serta beberapa pesantren yang terletak
di Desa Sendang seperti Pesantren Darut Tauhid Al Alawi asuhan KH Ahmad
Shiddiq, Pesantren Darut Tauhid Al Hasaniyah, pimpinan KH. Nasiruddin,
Pesantren Alqur’an asuhan KH. Musyaffak. (T41N)
Laporan A. Musta’in, diolah dari berbagai sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Us
Diberdayakan oleh Blogger.
0 comments:
Posting Komentar